Sabtu, 13 Januari 2018

SAMPAH JANGAN MENGGUNUNG LAGI DI CIPUTAT



PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN HARUS SEGARA MENCARIKAN SOLUSI AGAR SAMPAH TIDAK LAGI MENGGUNUNG DI CIPUTAT.


Sampah memang masih menjadi salah satu persoalan pelik di sejumlah wilayah perkotaan di Indonesia, termasuk di Kota Tangerang Selatan. Tingkat pertumbuhan penduduk yang begitu cepat—yang juga berarti bertambahnya volume sampah--ternyata belum diimbang dengan sistem pengendalian sampah yang baik. Maka tidak heran bila di sejumlah titik di kawasan Tangerang Selatan, khususnya sekitar Pasar Ciputat, sampah kembali menumpuk.

Berdasarkan pemantauan lapangan tim Robert Usman Centre (RUC), hingga hari ini (13/1/2018) masih banyak terdapat tumpukan sampah di sejumlah titik di kawasan Pasar Ciputat. Salah satunya yang cukup mengganggu adalah di titik pertigaan yang mempertemukan Jalan Arya Duta dengan Jalan Dewi Sartika, Ciputat. Sampah yang kebanyakan berasal dari area pasar ini ditumpuk sembarangan hingga tumpah ke jalan raya.

Penumpukan sampah itu, yang juga terdapat di separator di sekitar SPBU di putaran jalan dari arah pamulang menuju Gaplek dan di sekitar area pasar lainnya, telah menghadirkan kesan kotor dan kumuh bagi wilayah Kota Tangerang Selatan. Padahal, kawasan Ciputat—selain sebagai ibu kota Tangerang Selatan—juga menjadi salah satu titik masuk ke kota ini.

Dari hasil perbincangan tim RUC dengan sejumlah petugas kebersihan diperoleh keterangan bahwa jumlah armada yang setiap hari bertugas mengangkut sampah di Pasar Ciputat sangat terbatas, yakni sekitar 2 sampai 3 unit truk. Sementara kebutuhannya mugkin di atas 6 armada per hari. Persoalan itu semakin rumit ketika terjadi antrian masuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Cipeucang milik Pemkot Tangerang Selatan.

Berdasarkan hasil investigasi data-data, Wali Kota Airin Rachmy Diany sebenarnya sudah pernah mewacanakan untuk membangun sistem pengendalian sampah dengan teknik komposting khusus untuk Pasar Ciputat. Artinya, sampah-sampah dari Pasar Ciputat bisa diatasi sendiri hingga tidak perlu ikut dibuang ke TPA Sampah Cipeucang. Namun hingga hari ini, wacana itu belum terealisasi.

Padahal, kapasitas TPA Sampah Cipeucang juga sudah mengkhawatirkan, mengingat tidak ada keseimbangan antara kapasitas dengan produksi sampah yang dihasilkan setiap hari. Data yang diperoleh RUC menyebutkan, volume sampah yang berasal dari warga Kota Tangerang Selatan saat ini mencapai sekitar 1.500 ton per hari. Sementara TPA Cipeucang hanya sanggup menampung 880 ton sampah per hari.

Bayangkan, terjadi selisih 620 ton sampah per hari yang sesungguhnya tidak bisa diatasi oleh TPA Cipeucang.


# Bayong Cappoera / RUC

Kamis, 11 Januari 2018

ROBERT USMAN DALAM FOTO


Sebagai politisi yang sudah cukup memiliki pengalaman, teman, dan jaringan di Kota Tangerang Selatan, HM. Robert Usman merupakan sosok yang cukup sering mengunjungi dan dikunjungi warga dalam berbagai aktifitas. Bukan saja pada forum-forum resmi, namun juga dalam kegiatan-kegiatan biasa, baik itu sekadar mengobrol bersama, menjenguk sabahat, menerima kelompok pemuda masjid, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat. Bagi yang sudah mengenal pria yang kini duduk sebagai Wakil Bendahara Partai Golkar Kota Tangsel ini, hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa dilakukan oleh HM. Robert Usman.

Berikut adalah sebagian rangkaian foto aktifitas HM. Robert Usman sekitar satu bulan ini yang sempat terekam.



1. Silaturrahmi dengan warga di RW 012 Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat




2. Ngobrol bareng para pemulung di "istana pemulung" di wilayah Tangerang Selatan




3. Berbincang-bincang dengan Wali Kota Tangerang Selatan, Hj. Airin Rachmy Diany




4. Menerima kunjungan dari perwakilan remaja masjid Kelurahan Serua dan Serua Indah




5. Silaturrahmi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangsel, H. Muhammad





6. Menerima kunjungan dari perwakilan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah 




7.  Silaturrahmi dengan warga Kelurahan Serua Indah




8. Silaturrahmi dengan anggota DPRD Provinsi Banten, H. Harun Al-Rasyid




9. Silaturrahmi dengan Ketua KPUD Kota Tangerang Selatan, Mohamad Subhan























10. Kerja bakti bersama pemuda Kelurahan Serua

AYO, RAWAT SITU GINTUNG


Belakangan ini kawasan Situ Gintung terlihat kurang terawat, khususnya di titik yang agak jauh dari lokasi wisata.


SITU GINTUNG adalah sebuah danau buatan yang terletak di kawasan Cirendeu, Kota Tangerang Selatan. Ia dibentuk oleh sebuah bendungan yang dibangun pada zaman  Kolonial Belanda pada 1933. Pada awalnya, Situ Gintung adalah sebuah bendungan untuk kepentingan irigasi di sekitar kawasan tersebut. Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), awalnya bendungan tersebut memiliki luas 31 hektar, namun karena mengalami pendangkalan, luasnya berkurang menjadi 21,4 hektar di tahun 2009.

Dalam konteks upaya pengendalian banjir, Situ Gintung sangatlah penting mengingat ia mampu menampung sekitar 2,1 juta meter kubik air. Apalagi danau itu merupakan bagian dari daerah aliran sungai Kali Angke dan Pesanggrahan, yang lahir pada awal pembentukan dataran rendah Jakarta, sekitar 5.000 tahun silam. Baru kemudian Belanda menjadikannya bendungan untuk keperluan irigasi dan pengendalian banjir Jakarta.

Sekitar tahun 1980, area Situ Gintung mulai dilirik para pebisnis. Waduk tandon hujan itu pun digarap menjadi objek wisata alam. Berbagai fasilitas dibangun mulai dari restoran hingga sarana olahraga, serta bangunan-bangunan komersial lainnya. Tahun 2009, tanggul danau ini jebol hingga mengakibatkan banyak korban jiwa. Setelah terjadinya bencana, Situ Gintung sempat dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan sementara seperti perkebunan singkong, timun suri, dan jagung.

Hari ini (11/1/2018), tim Robert Usman Centre (RUC) mengunjungi kawasan Situ Gintung sebagai bagian dari kepedulian komunitas ini terhadap lingkungan sekitar. Dari pantauan RUC, di sejumlah titik kawasan ini tampak tidak mendapatkan perawatan yang cukup baik hingga danau ini terlihat agak kumuh. Di sekitar jalan setapak danau tumbuh semak-semak liar. Belum lagi dengan pemandangan penumpukan sampah di titik lainnya.


Ini menunjukkan pengawasan yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC)—yang kemudian menunjuk asosiasi pengusaha Situ Gintung untuk bekerja sama mengelola sekitar danau sebagai area komersial—belum dilakukan secara maksimal. Artinya, Pemerintah Kota Tangerang Selatan ada baiknya bisa mengingatkan sejumlah pihak yang berkepentingan dengan Situ Gintung agar bisa meningkatkan pengawasan serta perawatan danau ini. Apalagi fungsi danau ini juga menjadi salah satu sarana pengendali banjir, maka pendangkalan-pendangkalan yang terjadi karena alam maupun manusia perlu segera diantisipasi secara dini.

# Max / RUC
   

Minggu, 07 Januari 2018

GERAKAN SADAR PEMILU


Dalam sistem demokrasi, rakyat memiliki kedaulatan untuk memilih para pemimpin yang akan membentuk parlemen dan pemerintahan melalui ajang Pemilu. Dalam konteks ajang kontestasi ide dan gagasan bernegara secara damai dan beradab, Pemilu idealnya menjadi sarana bagi semua komponen masyarakat untuk saling menguatkan ide persatuan dan kesatuan bangsa.

Karena itu penting bagi kita semua untuk memahami Pemilu secara tepat agar dapat dioptimalkan secara benar dan demi kemajuan bangsa. Menghadapi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, KPU menggagas sebuah gerakan sosial yang dinamai Gerakan Sadar Pemilu, yakni sebuah gerakan moral untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Pemilu. Sebagai sebuah gerakan, tentu saja program ini dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak menjadi kegiatan KPU saja, melainkan juga seluruh rakyat Indonesia.

Gerakan Sadar Pemilu ini memiliki 7 poin utama yang wajib diketahui masyarakat sebagai pemilih, di antaranya :

1    1. Memiliki KTP Elektronik
     2. Pastikan terdaftar dalam DPT
     3. Telusuri profil dan rekam jejak kandidat
     4. Santun dalam berkampanye
     5.  Gunakan hak pilih di TPS
     6. Kenali jenis surat suara dan tata cara memilih yang benar
     7. Kawal jalannya pemungutan dan penghitungan suara



APA MANFAAT PEMILU BUAT KITA?


Pemilih harus sungguh-sungguh berdaulat atas pilihannya bila ingin Pemilu menjadi bermanfaat untuk orang banyak.


Itulah benang merah yang dapat disimpulkan dari hasil diskusi Robert Usman Centre (RUC) Coffee Morning ke-3 yang digelar belum lama ini, Sabtu (6/12/2018) di Taman Jajan Bukit Nusa Indah, Serua-Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Dengan kata lain, pemilih sebenarnya memiliki peran yang sangat strategis dan fundamental dalam membentuk parlemen yang lebih kapabel, kredibel, dan berintegritas—selama pemilih tidak terdistorsi dan terciderai oleh aspek-aspek artifisial yang sifatnya hanya sesaat.

Ketua KPUD Kota Tangsel, Mohamad Subhan (kiri)
Narasumber diskusi kali ini, Ketua KPUD Kota Tangerang Selatan Mohamad Subhan, menegaskan bahwa sesungguhnya kita tidak bisa bersikap apatis terhadap politik, termasuk dalam menyikapi Pemilu. “Mengapa demikian, karena seluruh hal yang menyangkut tata kelola negara diatur oleh kebijakan politik, baik yang bersifat lokal, nasional, bahkan internasional. Penetapan harga kebutuhan pokok, misalnya, ditentukan oleh kebijakan politik. Pemimpin baik dan buruk juga lahir dari kompetisi politik,” ujar Mohamad Subhan.

Itu sebabnya saya percaya, tambah Subhan, Pemilu adalah suatu “momen sakral” yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Begitu kita menentukan pilihan, maka saat itu pula kedaulatan kita sebagai warga negara telah dijatuhkan kepada sosok kandidat yang dipilih itu. Mandat telah kita berikan kepada sosok di atas kertas suara tersebut. Karenanya jangan memilih atas dasar pertimbangan pada aspek-aspek artifisial, seperti primordialisme dan politik uang.

“Jangan berikan mandat itu kepada sosok-sosok yang tidak memiliki komitmen terhadap perkembangan masyarakat ke depan. Pesta demokrasi ini harus dijadikan sebagai sarana bagi kita semua untuk menjawab cita-cita kesejahteraan dan rasa keadilan sosial. Pemilu harus mampu menjadi sarana untuk membangun sikap kebenaran yang universal. Lewat Pemilu ini semoga saja kita mendapatkan pemimpin-pemimpin yang amanah,” tandas Subhan.

Dalam kesempatan ini Subhan juga menjelaskan, event Coffee Morning yang dilakukan RUC ini semestinya juga dilakukan oleh kandidat-kandidat lain. Sebab dari event seperti inilah kita sebagai masyarakat mampu menilai apakah kandidat ini memang layak dipilih atau tidak. “Karena itu saya sepakat dan memberikan apresiasi kepada RUC yang berani menyelenggarakan coffee morning ini sebagai ruang untuk saling membuka diri di antara kandidat dan calon pemilih agar Pemilu mendatang bisa lebih berkualitas,” ujar Subhan.

Sementara pemandu acara, HM. Robert Usman mengatakan, kegiatan RUC Coffee Morning ini memang ditujukan untuk membangun dialog positif antara kandidat dengan calon pemilih demi membangun tujuan bersama. “Di momen inilah, komitmen dan kapasitas seorang kandidat dapat terukur hingga tidak ada lagi istilah membeli kucing dalam karung,” tandas HM. Robert Usman.

Ditegaskan Robert Usman, Pemilu sebenarnya merupakan “sasaran antara” bagi kita semua. Substansi tujuannya tidak terletak pada momen Pemilu itu sendiri, melainkan pada hari-hari yang panjang pasca-Pemilu. Apa yang akan kita perbuat setelah Pemilu ini selesai?. “Di situlah kata kuncinya. Jadi, misalnya Anda semua memilih saya nanti pada Pemilu 2019—dan saya berhasil menjadi anggota DPRD--maka Anda adalah para pemegang saham atas kursi yang saya peroleh di lembaga legislatif,” kata Robert.

Selayaknya sebagai pemegang saham, maka Anda dapat mendesak saya untuk melakukan kerja-kerja yang telah disepakati demi peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal kita. Pada momen Coffee Morning inilah saya dan RUC siap membuka diri untuk merumuskan tujuan bersama kita pasca-pemilu mendatang. “Saya rasa di situlah kuncinya bagi warga untuk menentukan sosok kandidat yang dipilih pada Pemilu mendatang, hingga Pemilu menjadi bermanfaat bagi banyak orang untuk jangka panjang,” tegas HM. Robert Usman.

Dalam kesempatan yang sama, seorang Ketua RT di perumahan Vila Dago Tol, Ahmad, sempat memberikan testimoni di hadapan sekitar 50-an audience yang seluruhnya merupakan tokoh masyarakat perumahan Bukit Nusa Indah. Dikatakan Ahmad, apa yang disampikan HM Robert Usman bukanlah omong kosong. “Saya pernah mengalaminya di lingkungan tempat tinggal saya ketika Pak Robert masih menjadi anggota DPRD periode 2009-2014,” katanya.

Waktu itu, perumahan kami sering mengalami banjir besar karena lokasinya berada di tepian Kali Angke. Akhirnya kami mengajukan sejumlah item pembangunan untuk mengantisipasi banjir, seperti pembangunan tanggul, turap, dan betonisasi jalan lingkungan. Saat itu, kami berkonsultasi dengan Pak Robert dan beliau pula yang akhirnya mengawal usulan kami agar segera direalisasikan oleh Pemkot Tangerang Selatan. “Alhamdulillah, semuanya terealisasi dan hingga kini kawasan Vila Dago Tol tidak pernah dilanda banjir kembali,” tegas Ahmad. 


Senin, 25 Desember 2017

MEMBEDAH PERAN PARTAI GOLKAR


Kemajuan pembangunan di Kota Tangsel merupakan potret komitmen Wali Kota yang merupakan salah satu kader terbaik Partai Golkar.
  

Sabtu (23/12/2017) Robert Usman Centre kembali menggelar Coffee Morning ke-2 di rumah makan Telaga Kaisar Resort, Serua-Ciputat, Tangerang Selatan. Kegiatan yang juga dikenal dengan nama “Ngopi Bareng Sambil Ngobrol Politik bersama HM. Robert Usman” ini menghadirkan narasumber Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Tangsel, H. Abdul Rosyid—yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Tangsel. Pada sesi kali ini, sekitar 70-an audience yang hadir adalah para tokoh warga Serua Indah, Kecamatan Ciputat.  


Ketua RUC, H. Saroh bin Afandi
Dalam sambutannya, Ketua Robert Usman Centre (RUC), H. Saroh bin Afandi menjelaskan, RUC dibangun untuk menjadi teman setia bagi warga Tangerang Selatan, baik sebelum Pemilu maupun sesudah Pemilu. Artinya, kita akan selalu bersama-sama dengan warga untuk selalu memberi manfaat bagi masyarakat. Pemilu bagi kami hanyalah sebuah momen formal demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama, dan bukan menjadi tujuan dari RUC itu sendiri.  

Sementara pemandu acara, HM. Robert Usman mengatakan, meski sempat terjadi dinamika yang mengkhawatirkan di internal DPP Partai Golkar, kami bersyukur bahwa persoalan itu sudah selesai dengan baik dan tidak meluas ke daerah termasuk di Tangerang Selatan. “Kita bisa lihat bahwa Partai Golkar di Kota Tangsel tetap solid dan bertekad menjadi yang terbaik dan mampu berbuat banyak untuk daerah ini,” tandas Robert Usman.

Ia menambahkan, apalagi Wali Kota Tangerang Selatan, Hj. Airin Rachmy Diany merupakan Ketua DPD dan salah satu kader terbaik Partai Golkar. Maka kita bisa lihat bersama, apa yang telah dilakukan Wali Kota merupakan sebuah cerminan komitmen kader Golkar untuk masyarakat Kota Tangsel. “Artinya, dengan melihat hasil yang telah dilakukan Wali Kota, kita optimis bahwa Partai Golkar akan tetap menjadi yang pilihan utama warga serta menjadi partai terbaik di daerah ini,” tegas HM Robert Usman.

Narasumber, H. Abdul Rosyid, Sekretaris DPD Partai Golkar Tangsel (kiri)
Ditambahkan pria yang kini menjabat sebagai Wakil Bendahara DPD Partai Golkar Kota Tangsel ini, ia berharap agar Partai Golkar ke depan—khususnya di Kota Tangsel—tidak saja besar secara kuantitas, melainkan juga secara kualitas. “Saya berharap Partai Golkar dapat menangkap komitmen ini sebagai sebuah upaya membangun kemajuan partai ke depan,” ujar Robert.   

Senada dengan HM. Robert Usman, narasumber diskusi, H. Abdul Rosyid, Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Tangerang Selatan menjelaskan bahwa kemajuan kota ini memang tidak dapat dilepaskan dari peran Wali Kota Hj. Airin Rachmy Diany yang notabene adalah ketua DPD Golkar. “Ini merupakan potret kesungguhan beliau sebagai kader Golkar untuk bekerja sebaik-baiknya demi kepentingan masyarakat,” ujar Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Tangsel ini.

Abdul Rosyid juga menambahkan, dari waktu ke waktu kita bisa lihat kemajuan demi kemajuan yang ada di Kota Tangerang Selatan, terutama soal infrastruktur. “Wali Kota memang menetapkan beberapa sektor sebagai prioritas pembangunan, seperti infrastruktur jalan, kesehatan, dan pendidikan. Untuk pembangunan jalan, kita sudah bisa lihat faktanya,” ujar Abdul Rosyid.

Lalu untuk pendidikan, tambah Rosyid, Wali Kota sedang mengupayakan pembangunan sekolah dasar negeri agar tidak ada siswa yang masuk siang. Semua ditargetkan bisa mulai bersekolah sejak pagi hari, karena itu dibutuhkan infrastuktur baru untuk memenuhi kebijakan tersebut. Begitu juga dengan fasilitas kesehatan di mana pembenahan demi pembenahan terus dilakukan “Di sektor kesehatan, kita sudah memiliki sekitar 25 unit Puskesmas dan 820 unit Posyandu yang siap bekerja untuk seluruh warga Tangerang Selatan,” tandasnya.

Penyematan cinderamata berupa topi berlogo RUC oleh HM. Robert Usman
Lalu dalam konteks membangun Partai Golkar yang lebih berkualitas di Tangerang Selatan, belum lama ini Golkar telah menggelar acara Public Speaking untuk para kadernya dengan narasumber Rosiana Silalahi . “Hal ini sangat dibutuhkan mengingat perolehan suara Partai Golkar pada Pemilu 2014 lalu cenderung dipengaruhi oleh sosok ketokohan para kadernya. Atas dasar itulah kami menginginkan agar para kader Golkar dapat memiliki kualitas SDM yang merata agar perolehan suara di 2019 bisa jauh lebih baik dari sebelumnya,” tegas Abdul Rosyid.

Ia juga menegaskan, pada titik pengembangan SDM itulah kami mencoba mengawali upaya peningkatan kualitas Partai Golkar di masa mendatang, di samping pengembangan partai yang berbasis teknologi.


Jumat, 22 Desember 2017

WASPADA WABAH DIFTERI



Tahun ini Difteri kembali mewabah di Indonesia. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi.

Merujuk pada data Kementerian Kesehatan, sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, dengan 32 diantaranya meninggal dunia.

Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

TENTANG DIFTERI

Difteri sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya yang disebut vaksin DPT. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. Vaksin ini akan efektif jika diberikan setiap 10 tahun.

Penyakit infeksi ini dapat menular dan berbahaya serta dapat mengakibatkan kematian lantaran sumbatan saluran nafas atas yang bersifat patogen. Akibatnya menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), gagal ginjal, gagal napas dan gagal sirkulasi.

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi (sekitar 38ºC), munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck. Adakalanya disertai sesak napas dan suara mengorok.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, namun muncul kembali pada tahun 2009. Sejak tahun 2015, jumlah kematian akibat difteri meningkat hingga 502 kasus. Untuk tahun ini saja, sejak Januari hingga November tercatat lebih dari 590 kasus dengan prosentase kematian sekitar 6%.

Indonesia sebenarnya sudah melaksanakan program imunisasi, termasuk imunisasi difteri sejak lebih dari lima dasawarsa. Vaksin untuk imunisasi difteri ada tiga jenis, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Sebelumnya, kasus difteri banyak terjadi terhadap anak-anak. Namun kini Kementerian Kesehatan juga menemukan meningkatnya kasus difteri yang terjadi pada orang dewasa.


Kamis, 21 Desember 2017

METODE PENGHITUNGAN SUARA PADA PILEG 2019



SALAH satu perubahan yang paling mencolok antara Pemilu 2014 dengan 2019 adalah soal metode penghitungan suara untuk legislatif. Bila pada pemilu legislatif 2014 kita menggunakan metode Quata Hare, pada pemilu 2019 nanti perhitungan kursi akan menggunakan metode Sainte Lague. Perbedaannya, metode Quata Hare menggunakan konsep bilangan pembagi pemilih (BPP), sementara  sistem Sainte Lague menggunakan bilangan pembagi tetap (BPT), di mana untuk mengonversi suara menjadi kursi, metode ini membagi jumlah suara tiap partai di suatu dapil dengan angka ganjil sesuai rumus.

Konstanta awal selalu dimulai dengan angka 1. Kemudian proses penghitungan dilanjutkan dengan angka ganjil berikutnya: 3, 5, 7, dan seterusnya. Setelah itu, hasilnya diperingkat sesuai dengan jumlah kursi dalam suatu dapil. Sebagai contoh, jika jumlah kursi di dapil tersebut ada 4, maka akan dibuat 4 urutan. Untuk lebih memahami bagaimana menerapkan metode Sainte League, berikut simulasi cara perhitungan kursi partai.

Misalkan di satu dapil memiliki jatah 4 kursi. Lalu, hasil perolehan suara pemilu legislatif 2019 di dapil itu adalah sebagai berikut :

    – Golkar : 200.000
    – PDIP: 100.000
    – Gerindra : 50.000
    – Nasdem : 25.000
    – Partai2 lain: 5.000

Dari simulasi hasil suara Pileg di atas maka perhitungan perolehan kursi adalah sebagai berikut:

1. KURSI PERTAMA diperoleh oleh Golkar karena suara terbanyak (200.000 suara)

2. KURSI KEDUA dihitung dengan cara sebagai berikut;
    a. Golkar : 200.000/3 = 66.666
    b. PDIP : 100.000
    c. Gerindra: 50.000
    d. Nasdem : 25.000
Berdasarkan perhitungan kursi kedua ini PDIP memiliki suara tertinggi (100.000) maka PDIP mendapat 1 kursi.

3. KURSI KETIGA dihitung dengan cara sebagai berikut;
    a. Golkar : 200.000/3 = 66.666
    b. PDIP : 100.000/3 = 33.333
    c. Gerindra: 50.000
    d. Nasdem : 25.000
Berdasarkan perhitungan kursi ketiga ini Golkar memiliki suara tertinggi (66.666) maka Golkar mendapat 1 kursi lagi.

4. KURSI KEEMPAT dihitung dengan cara sebagai berikut;
    a. Golkar : 200.000/5 =40.000
    b. PDIP : 100.000/3 = 33.333
    c. Gerindra: 50.000
    d. Nasdem : 20.000
Berdasarkan perhitungan kursi keempat ini Gerindra memiliki suara tertinggi (50.000) maka Gerindra mendapat 1 kursi.

Karena jatah di dapil itu hanya 4 kursi, maka proses penghitungan suara sudah selesai dengan hasil akhir sebagai berikut:
    A. Golkar : 2 kursi
    B. PDIP : 1 kursi
    C. Gerindra : 1 kursi

Menurut banyak pengamat politik, metode konversi suara dengan sistem Sainte League dirasakan lebih adil dibanding menggunakan metode Quata Hare. Dengan metode Sainte League ini nantinya partai-partai yang memperoleh suara banyak tidak akan merasa suaranya direbut oleh partai lain yang suaranya lebih kecil tapi memperoleh kursi--seperti yang terjadi pada model Quata Hare.


MENCARI MOMEN HARI JADI CIPUTAT



Oleh : HM. Robert Usman, SE, M.Si
Pendiri Robert Usman Centre


Ciputat hari ini dan masa lalu—juga di masa mendatang--merupakan sebuah daerah yang menyimpan potensi bagi wilayah yang kini disebut sebagai Kota Tangerang Selatan. Lokasinya yang berbatasan dengan Jakarta dan Bogor membuat Ciputat terasa lebih strategis bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di Tangerang Selatan. Bahkan pemekaran Kabupaten Tangerang menjadi Kota Tangerang Selatan—salah satunya--juga didasari atas tidak terurusnya kawasan Ciputat, terutama di sekitar pasar.

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Karesidenan Batavia yang didominasi oleh tiga etnis, yaitu: suku Sunda, suku Betawi, dan Tionghoa. Di kawasan ini pula terdapat Masjid Agung Al-Jihad Ciputat, salah satu masjid bersejarah yang masih berdiri kokoh di tengah lajunya pembangunan kota Tangerang Selatan. Masjid yang berlokasi di Jalan H. Usman No.1, Ciputat - Tangerang Selatan ini, disebut-sebut menjadi saksi penyebaran Islam dan perlawanan pejuang terhadap penjajahan Belanda.

Di samping itu, Ciputat juga dikenal memiliki banyak tokoh masyarakat berpengaruh, mulai dari ulama, akademisi, hingga politisi--baik di tingkat lokal hingga nasional--terutama setelah kehadiran UIN Syarif Hidayatullah, yang jauh sebelumnya bernama Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA). Maka tidak terlalu berlebihan rasanya bila saya katakan bahwa Ciputat merupakan pusat peradaban bagi Kota Tangerang Selatan. Atas dasar itulah saya rasa Ciputat memang perlu menentukan hari jadinya agar kita semua—khususnya warga Tangerang Selatan—bisa terus mengingat peran wilayah ini.

MELIHAT CIPUTAT DI MASA LALU

Pasar Ciputat sebelum dibangun flyover
Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, kawasan Ciputat dihuni oleh tiga etnis besar, di antaranya suku Sunda, suku Betawi, dan Tionghoa. Waktu itu Ciputat dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah, panen pangan, hingga buah-buahan. Barangkali itu sebabnya kita tidak menemukan bangunan-bangunan dengan arsitektur peninggalan kolonial Belanda—mengingat wilayah ini hanya dimanfaatkan untuk perkebunan. Konon, sebutan Ciputat itu pun sudah ada sejak masa Kolonial Belanda.

Pada masa peperangan, menurut sejumlah sumber, pertempuran melawan Belanda sering pecah di kawasan Pasar Jumat. Di sanalah para pejuang rakyat memasang batas pertahanan agar pasukan Belanda yang bermarkas di wilayah Kebayoran Lama dapat dicegah. Waktu itu markas Barisan Komando Rakyat (BKR) wilayah Ciputat berada di sebelah Masjid Agung—yang kini menjadi kantor pejuang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Itu sebabnya masjid yang berlokasi di Jalan H. Usman No.1 Ciputat Tangerang Selatan ini, disebut menjadi saksi penyebaran ajaran Islam dan perlawanan pejuang terhadap penjajahan Belanda.

Masjid Agung Al Jihad ini sendiri pada awalnya merupakan sebuah musholla kecil yang dibangun pada sekitar 1940-an. Adalah Tuan Salim, warga Ciputat berdarah Arab yang mewakafkan sebidang tanah untuk didirikan sebuah musholla sebagai tempat beribadah penduduk. Seiring perjalanan waktu, penduduk Muslim di wilayah Ciputat kian berkembang, sehingga mushalla itu mengalami perubahan fisik bangunan dan dijadikan masjid pertama di kawasan Tangerang Selatan.

Pada tahun 1970-an masjid Agung Al-Jihad mengalami renovasi permanen hingga terlihat kokoh dengan bahan bangunan modern. Dominan berwarna hijau dengan ukiran kaligrafi islam di dinding, masjid Al-Jihad kini menjadi salah satu masjid megah di Tangerang Selatan. Sebagai salah satu pusat kajian Islam di Ciputat, Masjid juga kerap disinggahi para ulama besar masa lalu. Begitu juga masjid Al-jihad. Rumah ibadah yang berlokasi tak jauh dari Pasar Ciputat ini pun kerap dikunjungi Buya Hamka, untuk sekadar mengisi pengajian dan memberikan kontribusi bagi pembangunan masjid.

Pada tahun 1945, di dekat Masjid Agung al Jihad sebenarnya terdapat sebuah tugu pejuang untuk mengingatkan betapa proses menuju kemerdekaan Republik ini tidak pernah mudah. Hanya saja, tugu yang didirikan oleh para pejuang itu hancur setelah kekacauan politik nasional pasca 1965 dan hingga kini belum pernah ada inisiatif untuk membangunnya kembali.

CIPUTAT DALAM PEMEKARAN KABUPATEN TANGERANG

Menurut saya, proses pemekaran Kabupaten Tangerang menjadi bagian pen􀀧ng bila kita ingin mencari hari lahir wilayah Ciputat. Apalagi waktu itu kawasan Ciputat menjadi isu sentral mengapa wilayah yang dinamakan Tangerang Selatan saat ini harus berdiri sendiri sebagai sebuah kota. Pada tahun 1999, wilayah Ciputat—khususnya di sekitar area pasar—berkembang pesat hingga menjadi salah satu daerah yang paling bermasalah, mulai dari soal kemacetan, penataan wilayah, hingga kekacaauan pasar.

Kampus UIN Syarif Hidayatullah
Dari situlah sejumlah tokoh masyarakat bertemu dan berkumpul untuk melahirkan wacana pemekaran. Hampir semua tokoh yang bertemu membicarakan kondisi kawasan Ciputat yang terkesan nyaris tak terurus—terutama di sekitar area pasar. Barangkali, jarak antara kawasan Ciputat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa yang terbilang cukup jauh, sekitar 50 kilometer, membuat kawasan ini menjadi kurang terkontrol.

Maka untuk memudahkan tata kelola wilayah ini para tokoh tersebut kemudian mewacanakan konsep pemekaran daerah di Kabupaten Tangerang. Nama “Ciputat” pun menjadi kata pertama untuk usulan singkatan yang menyebut nama daerah baru itu, yakni: Cipasera—yang merupakan singkatan dari Ciputat, Pamulang, Serpong, dan Pondok Aren. Setelah beberapa kali melakukan perbincangan dan pematangan, pada akhirnya mereka membentuk Komite Persiapan Pembentukan Daerah Otonom Kota Cipasera (KPPDOKC).

Sejumlah upaya pun dilakukan, mulai dari mengirim surat kepada DPRD Kabupaten Tangerang—yang awalnya 􀀧dak ditanggapi—hingga akhirnya diterima oleh Ketua Komisi A saat itu, Norodom Sukarno. Namun jalan itu pun tidak mudah. Anggota KPPDO-KC pun kemudian meningkatkan intensitas sosialisasi dan penetrasi dalam berbagai bentuk, mulai dari menulis artikel di koran lokal dan nasional, menggelar seminar, membuat spanduk di berbagai wilayah Cipasera dan menyebar pamplet.

Sejumlah organisasi masyarakat di wilayah Cipasera pun mulai menyutujui gagasan dari KPPDO-KC. Maka dibentuklah aliansi antar ormas dengan KPPDO-KC dalam bentuk Komisariat Bersama Cipasera. Dengan demikian terbentuklah tiga organisasi baru yang memperjuangkan terbentuknya kota Cipasera, yaitu KPPDO-KC (pelopor), Bakor (Badan Koordinasi) Cipasera, dan Komber (Komisariat Bersama) Cipasera.

Singkat cerita, Bupati Kabupaten Tangerang saat itu, Ismet Iskandar, menyatakan setuju asalkan terbentuk menjadi dua kota. Tentu saja hal itu sulit dilakukan. Untuk memecahkan kebuntuan, akhirnya DPRD membentuk Pokja tentang pemekaran daerah—meski Pokja ini sebetulnya tidak dikenal di dalam tata tertib DPRD periode tahun 2004-2009. Pokja kemudian menghasilkan kajian ilmiah dari Prof. DR. Sadu Wasistiono terkait pemekaran daerah Kabupaten Tangerang.

Dalam rapat paripurna yang dilakukan anggota legislatif, diusulkan beberapa nama untuk daerah pemekaran itu antara lain; Kota Cipasera, Kota Ciputat, Kota Serpong, Kota Lengkong, dan Kota Tangerang Selatan. Dari hasil voting saat itu, terpilihlah nama Kota Tangerang Selatan. Sedangkan batas wilayah berdasarkan hasil kajian Prof DR Sadu Wasistiono yakni mencakup Kecamatan Ciputat, Cisauk, Pamulang, Serpong, dan Pondok Aren—tanpa Pagedangan.

Proses itu pun terus berlanjut untuk mematangkan pemekaran, hingga akhirnya--dalam rapat paripurna--ditetapkan pembentukan Kota Tangsel dengan batas wilayah Sungai Cisadane. Lalu pada 27 Desember 2006, DPRD Kabupaten Tangerang akhirnya menyetujui terbentuknya Kota Tangerang Selatan. Calon kota otonom ini terdiri atas tujuh kecamatan, yakni: Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara dan Setu—hingga saat ini.

MENENTUKAN TANGGAL HARI JADI

Menentukan hari jadi bagi sebuah daerah memanglah tidak mudah. Perlu sebuah momen penting yang mampu menjadi semacam tonggak awal untuk dijadikan sebagai hari jadi sebuah daerah, dan juga disepakati oleh banyak orang. Dalam konteks Kota Tangerang Selatan, misalnya, penetapan hari jadi kota ini ditentukan pada tanggal 26 November. Dasar pertimbangannya adalah tanggal 26 merupakan momen disahkannya Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di DPR RI. Artinya, pada saat itulah Kota Tangerang Selatan terlahir sebagai sebuah kota baru.

Lalu bagaimana dengan Ciputat?. Saya mencatat ada tanggal penting bagi Ciputat dalam proses pembentukan Kota Tangerang Selatan, yang dapat ditetapkan sebagai hari jadi Ciputat, yakni pada tanggal 22 Januari. Kenapa tanggal itu?. Setelah mempelajari seluruh proses pemekaran yang terkait dengan Kota Tangerang Selatan, pada tanggal 22 Januari 2007, ada momen penting di mana hari itu dilakukan Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tangerang yang dipimpin oleh Ketua DPRD, Endang Sujana, dan menetapkan Kecamatan Ciputat sebagai pusat pemerintahan Kota Tangerang Selatan secara aklamasi.

Di situlah saya rasa Kecamatan Ciputat mendapatkan momen pentingnya. Sebab di tanggal itu Ciputat resmi menjadi pusat pemerintahan kota Tangerang Selatan. Atas dasar itulah—tanpa menampik momen lain yang terjadi di Ciputat--saya mencoba mengusulkan bahwa tanggal hari jadi Ciputat adalah 22 Januari. Demikian catatan sederhana ini saya sampaikan dalam pertemuan dengan para tokoh Ciputat--yang difasilitasi Camat Ciputat--untuk membahas wacana penentuan hari jadi Ciputat.

*****

Ciputat, 18 Desember 2017